PLK Bali Hari Terakhir: Ulun Danu, Islam-Hindu, dan Harmoni Sosial
"Tan hana
wighna tan sirna" begitulah kiranya semangat yang menggema di kaki Danau
Beratan, menandai babak penghabisan rangkaian PLK Prodi PPKn UNESA pada hari Kamis
(17/9), sekaligus menjadi penutup tiga hari perjalanan panjang yang membentang seperti
kearifan lokal Pulau Bali. Hari terakhir pelaksanaan PLK Prodi PPKn UNESA, ditutup
dengan agenda eksplorasi wisata sekaligus kajian nilai toleransi beragama di
kawasan Bedugul, tepatnya di kompleks Danau Beratan yang menaungi Pura Ulun
Danu Beratan, salah satu ikon wisata religi dan alam paling ikonik di Pulau
Dewata. Rombongan Mahasiswa dan Bapak Ibu Dosen disambut oleh udara sejuk
pegunungan serta panorama danau yang berdiri kokoh dengan latar belakang
perbukitan hijau, suasana yang kontras dengan hiruk pikuk kota surabaya.
Menariknya, kunjungan ke Bedugul turut membuka wawasan Mahasiswa mengenai kehidupan toleransi antarumat beragama yang terjalin erat di kawasan tersebut. Meski dikenal sebagai kawasan yang kental dengan nuansa Hindu Bali, Bedugul juga menjadi rumah bagi masyarakat Muslim Bali yang hidup berdampingan secara harmonis selama bertahun-tahun. Keberadaan Masjid Al-Hidayah, yang tercatat sebagai salah satu masjid tertua di Bali, menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Hindu dan Muslim di Bedugul mampu menjaga kerukunan dan saling menghormati keyakinan masing-masing di tengah perbedaan yang ada. Fenomena ini menjadi bahan diskusi menarik bagi Mahasiswa dalam mengaitkan konsep Moderasi Beragama dan Toleransi dengan realitas kehidupan sosial masyarakat Bedugul, sekaligus memperkaya kajian mata kuliah Kajian Masalah Kewarganegaraan dan Multikultural yang menjadi fokus utama PLK tahun ini.
Danau Beratan
menjadi persinggahan terakhir kami. Riak airnya yang tenang serta pura yang
berdiri anggun di tepiannya membuat kami tertegun, seolah alam turut merestui
setiap langkah yang telah kami tempuh. Dalam kunjungan tersebut kami disuguhkan
cerita mengenai sejarah panjang Bedugul serta bagaimana Masjid Al-Hidayah dan
pura-pura Hindu berdiri berdampingan tanpa sekat, menjadi saksi bisu bahwa
toleransi bukan sekadar wacana. Hal yang paling membekas adalah menyaksikan
sendiri bagaimana masyarakat Bali, baik Hindu maupun Muslim, menjalani
kehidupan berdampingan dengan penuh rasa hormat selama bertahun-tahun. Kami menyakini
bahwa Bedugul adalah cerminan paling murni dari harmoni yang selama ini kami
pelajari di bangku kuliah. Maka dari itu, jangan jadikan keyakinan itu hanya
sebatas catatan dalam buku. Keyakinan dan harapan kami terhadap keberagaman
Indonesia itu nyata dan abadi, layaknya air Danau Beratan yang tak pernah
berhenti mengalir.